-
Title
-
Asuhan Keperawatan Medikal Bedah Dengan Sistem Pernapasan : Efusi pleura ec Tuberkulosis Paru Pada Tn.K Di Ruang Rawat Inap Melania Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan 2025
-
Abstract
-
Efusi pleura merupakan akumulasi cairan yang berlebihan di rongga pleura yang disebabkan karena meningkatnya produksi atau berkurangnya absorpsi cairan. Efusi pleura merupakan manifestasi dari banyak penyakit. Tuberkulosis (TB) juga penyebab utama dari efusi pleura. TB Parummerupakan penyakit infeksi yang menular secara langsung oleh bakteri Mycobacterium Tuberculosis. Mycobacterium Tuberculosis menyerang organ paru, tetapi juga dapat mengenai organ lain dikarenakan bakteri ini bersifat aerob yang dapat hidup diberbagai organ dengan kadar oksigen yang tinggi. Untuk itu kasus ini menarik
untuk dibahas agar dapat meningkatkan pengetahuan keluarga dan menjadi pedoman dalam pencegahan penyakit tersebut. Metode dalam karya ilmiah akhir ini menggunakan metode studi kasus dengan pendekatan asuhan keperawatan
medical bedah dengan efusi pleura ec Tb Paru di ruangan St. Melania Rumah Sakit Santa Elisabet Medan. Pada teori ditemukan 4 diagnosa antara lain : bersihan jalan nafas ,defisit nutrisi pola nafas tidak efektif ,hipertermi. Sedangkan
diagnosa yang ditemukan penulis pada kasus ini didapatkan 3 diagnosa yang dimana bersihan jalan nafas tidak efektif, defisit nutrisi dan, harga diri rendah situasional sesuai dengan data pengkajian dan hasil obersrvasi yang dilakukan penulis pada pasien.Adapun intervensi yang telah dilakukan penulis pada pasien selama 3x 24 jam disesuaikan dengan landasan teori dan berdasarkan SIKI dan SLKI yang ada kaitannya dengan kondisi beberapa yang telah direncanakan dan sudah dijalankan seperti memberi oksigen 3L/menit, memberikan posisi semi fowler, melatih batuk efektif, melakukan fisioterapi dada , melakukan pemeriksaan laboratorium seperti pemeriksaan sitology dan foto thorax, kemudian memberi dukungan keyakinan seperti memberikan harapan untuk kesembuhan . Adapun evaluasi yang telah dilakukan penulis pada pasien yaitu: pasien mengatakan sesak nafas sudah mulai berkurang, frekuensi nafas membaik O: 3L/menit (k/p), batuk berdahak sudah bisa di keluarkan, wajah lebih tampak rileks, sehingga evaluasi bersihan jalan nafas teratasi Sebagian, bagian dari diagnosa defisit nutrisi ,makanan yang disajikan sudah habis ½ porsi, mual sudah berkurang, sehingga diagnose defisit nutrisi teratasi sebagian. Kemudian pada diagnosa harga diri rendah situasional ,pasien sudah mampu mengenal
penyakitnya dan percaya penyakitnya akan sembuh. Sehingga evaluasi resiko harga diri rendah situasional sebagian teratasi.
Penulis menemukan kesenjangan antara teori dengan kasus. Pada kasus, terdapat diganosa keperawatan yang tidak ditemukan diteori yaitu harga diri rendah situasional ,dimana menurut asumsi peneliti, dengan usia pasien 21 tahun
,kategori dewasa muda ,mengenai konsep diri akan terganggu ,dimana pasien merasa menarik diri/merasa tidak berguna atau terpisah karena penyakit menular yang di alaminya kemudian pada teori terdapat diagnosa hipertermi sedangkan
pada kasus tidak diangkat. Menurut asumsi peneliti diagnosa hipertermi tidak diangkat karena pasien masih mampu minum 2 l/hari dan demam bisa teratasi dalam waktu 1x24 jam. Kemudian diagnosa pola nafas tidak diangkat penulis
pada kasus , karena pasien dengan keluhan batuk berdahak yang mengakibatkan sumbatan pada jalan nafas dan irama nafas masih teratur. dan diagnosa intoleransi aktivitas pada kasus tidak di temukan karena Tn K masih mampu melakukan
aktivitas seperti personal hyginene. kemudian diagnosa nyeri tidak diangkat pada kasus ,karena setelah di lakukan tindakan punksi pasien sudah lebih merasakan nyaman dan nyeri pada dada sudah berkurang
-
Creator
-
Sinaga, Elfi Susanti (STIKes Santa Elisabeth Medan, 2025)
-
Date
-
2024
-
Description
-
Karya Ilmiah Akhir